Xposetv. Live, SUWAWA- Jumat, 11 September 2026 Penggunaan foto tahun 1961 sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa Rumah Dinas Jawatan Pos & Telegraf tidak memiliki keterkaitan dengan ruang sejarah peristiwa 23 Januari 1942 menuai pertanyaan serius.
Rusli Hippy menilai, foto yang diambil hampir dua dekade setelah peristiwa 23 Januari 1942 tidak dapat begitu saja dijadikan dasar untuk memutus konteks sejarah sebuah kawasan.
“Menjadikan foto penyambutan Atje Slamet tahun 1961 sebagai alasan untuk menyimpulkan bahwa Rumah Dinas Jawatan Pos & Telegraf tidak terkait dengan peristiwa 23 Januari 1942 adalah cara membaca sejarah yang terbalik,” tegas Rusli.
Menurutnya, justru foto tersebut memperlihatkan fakta yang tidak kalah penting: Rumah Dinas dan Kantor Pos & Telegraf masih berada dalam satu halaman dan pada saat itu belum dipisahkan oleh Jalan Merdeka.
Karena itu, Rusli mempertanyakan dasar yang digunakan untuk kemudian memisahkan Rumah Dinas dari konteks sejarah kawasan Kantor Pos & Telegraf.
“Kalau kedua bangunan itu masih berada dalam satu kesatuan halaman, atas dasar apa Rumah Dinas kemudian dianggap sama sekali tidak memiliki hubungan dengan ruang sejarah tersebut?” ujarnya.
Pertanyaan tersebut semakin mengemuka karena dokumentasi peristiwa 23 Januari 1942 memperlihatkan rakyat Gorontalo berkumpul di kawasan Kantor Pos & Telegraf dalam rangkaian aksi menurunkan dan merobek bendera Belanda menjadi Merah Putih.
Bagi Rusli, yang harus dibaca bukan hanya bentuk bangunan, melainkan ruang sejarah secara keseluruhan.
“Sejarah tidak boleh dibaca hanya dari nama bangunan atau kondisi fisik puluhan tahun kemudian. Ruang, waktu, kesaksian pelaku sejarah, dan konteks peristiwa harus dibaca sebagai satu kesatuan,” katanya.
Ia menilai Rumah Dinas Jawatan Pos & Telegraf patut dikaji dalam konteks sejarah kawasan tersebut sebagai “saksi bisu sejarah” dan bagian dari ruang yang menyimpan memori kolektif masyarakat Gorontalo.
Rusli juga menekankan pentingnya memperhatikan kesaksian para pelaku sejarah yang semasa hidupnya, menurutnya, telah membenarkan keterlibatan Kantor Pos & Telegraf dalam rangkaian peristiwa 23 Januari 1942.
“Jangan menggunakan foto tahun 1961 untuk menghapus konteks sejarah tahun 1942. Foto itu justru dapat menjadi petunjuk bahwa pada masanya Rumah Dinas dan Kantor Pos & Telegraf merupakan satu kesatuan ruang,” pungkasnya.
Kini pertanyaan utamanya bukan lagi sekadar apa yang terlihat dalam foto 1961, tetapi apa dasar historis untuk memutus keterkaitan sebuah bangunan dengan ruang peristiwa 23 Januari 1942. ( Red : A.T )












Tidak ada komentar:
Posting Komentar