Oleh : Ahmad Robbani
Profesi : ASN CPNS Jabatan Fungsional Keterampilan Pemadam Kebakaran Pemula, Golongan II/a, UPTD Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Polewali Mandar; PIC Damkar Polewali Mandar untuk Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Sulawesi Barat
POLEWALI MANDAR - Sejak 28 Juli, tahun 2026, sebuah surat edaran disebar ke kantor-kantor camat dan balai desa se-Polewali Mandar. Bupati H. Samsul Mahmud, mengutip prediksi BMKG bahwa musim kemarau Juli, Agustus, September tahun ini akan lebih kering dari biasanya, meminta warganya menahan diri : jangan membuka lahan dengan membakar, matikan kompor sebelum pergi, jangan tinggalkan puntung rokok menyala.
Sembilan poin sederhana, ditulis dengan nada permohonan lebih dari perintah. Pada Selasa, 15 September, permohonan itu diuji oleh kenyataan yang jauh melampaui bayangan siapa pun yang menandatanganinya.
Selasa Pagi yang Masih Tenang
Pukul 11.15 WITA, laporan warga masuk ke posko markas utama. Asap mengepul di Dusun Rea Jaya, Desa Patampanua, Kecamatan Matakali, tak jauh dari markas komando, sehingga armada hanya butuh tiga menit untuk tiba.
Dalam dua puluh menit, 0,8 hektare lahan produktif berhasil dijinakkan. Lima belas menit berselang, laporan kedua datang dari arah pusat kota. Tumpukan sampah rumah tangga dekat Masjid Jami', Lingkungan Tanro, Kelurahan Polewali, hanya seluas 200 meter persegi.
Dua kejadian kecil yang terasa seperti pemanasan bagi personel damkar. Tak seorang pun di posko menduga sembilan titik api lain akan menyusul sebelum matahari terbit kembali esok harinya.
Keheningan Menjadi Badai Laporan
Pukul 13.35, WITA dari kawasan puncak gunung di Desa Tapango, laporan datang. Kobaran muncul di hutan yang membentang di Dusun Reamambu dan Dusun Lapejang. Semenit kemudian, di kecamatan yang sama, api lain menjilat lereng Bukit Buttu Dakka, persis di pertigaan Masjid Nurul Hasanah, berdekatan dengan rumah warga yang ada di sepanjang lereng bukit.
Di titik inilah Kepala UPTD Damkar dan Penyelamatan Polewali Mandar, Imran, S.IP., M.M., ikut naik ke salah satu armada Posko Induk Matakali yang bergerak dari Kecamatan Polewali menuju Buttu Dakka, didampingi Andi Annissa, personel Pemadam Kebakaran Pemula, Srikandi Muda yang baru lulus SMA, bertugas sejak pagi mencatat setiap laporan yang masuk.
Armada tiba pukul 13.50, langsung berhadapan dengan medan terjal dan angin yang mendorong api kian dekat ke permukiman.
"Dari bawah saya lihat apinya benar-benar dekat dengan masjid di seberang jalan dan rumah-rumah warga. Sudah setahun saya bertugas sebagai CPNS Damkar, dan itu kali pertama saya teejun ke lapangan untuk Karhutla melihat langsung api sebesar itu menjilat lereng bukit," kata Annissa.
Pukul 14.02, personel meminta bantuan; armada kedua datang empat belas menit kemudian, disusul TNI dengan 1 unit armadanya, Polri, Brimob, dan BPBD. Perlawanan di lereng itu baru benar-benar usai pukul 16.30, dengan dua hektare lahan telanjur hangus.
Telepon dari Bupati, Berbelok ke Luyo
Di sela penanganan itu, ponsel Kepala UPTD Damkar Polman, Imran, S.IP., M.M., berdering. Bupati menanyakan kabar kebakaran di Kecamatan Luyo, yang rekamannya sudah beredar di kalangan warga. Pukul 14.38, satu armada yang dikendarai Imran ditarik dari Buttu Dakka menuju Luyo, tepat ketika laporan resmi soal Bukit Bungin-Bungin, Dusun Landi Pokki yang mencakup Desa Baru dan Desa Tenggelang baru diterima.
Sesampainya di sana, Damkar Campalagian rupanya sudah lebih dulu menangani bagian atas kawasan di Desa Tenggelang. Didampingi Camat Luyo, Darmawati Rukkawali, S.Sos., yang turun langsung memantau penanganan, Imran menerjunkan armadanya ke Desa Baru, area yang masih satu hamparan. Yang dihadapi berbeda dari kebakaran lahan biasa, tanahnya berkarakter gambut, di bawah kebun sawit.
Setiap titik yang padam kembali berasap dari sisi lain hanya dalam hitungan menit, sehingga armada turun langsung ke permukaan tanah, medan terjal dan bergelombang, menyiram dan menyisir sepuluh hektare lahan itu sampai tuntas, dibantu suplai air 1 unit water tank BPBD Polewali Mandar, dipimpi langsung oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Polewali Mandar (Polman) atau Kepala Pelaksana BPBD Polman, Andi Chandra Sigit, ST, M.A.P., juga oleh 1 unit Water Tank PDAM, sementara Polsek Luyo membawa jet shooter untuk menelusuri titik-titik api yang lebih dalam.
"Begitu satu titik padam, dua menit kemudian asap dan api muncul lagi dari sisi lain. Airnya seperti cuma mendinginkan permukaan, sementara di bawah tanah bara itu jalan terus," kata Imran, mengenang sore itu.
Bagi Imran, pemandangan sore itu seperti melihat "Kalimantan kecil" yang terjadi di Tanah Mandar. Ia menyaksikan sendiri hamparan kebun sawit yang begitu luas berubah menjadi lautan api, sementara tanah yang dipijaknya sendiri terasa tidak rata, mengingatkannya pada lahan gambut yang mengering dan menyisakan rongga-rongga udara di bawah permukaan, sehingga bara bisa menyala kembali kapan saja, bahkan di titik yang sudah dipadamkan sekalipun.
"Kebun sawit yang baru saja kami padamkan, sepuluh menit kemudian asapnya muncul lagi di sisi lain. Sampai saya bingung sendiri mana yang benar-benar padam dan mana yang cuma kelihatan padam dari luar," kata Annissa, memandangi hamparan kebun yang berubah jadi arang.
Bersamaan dengan itu, dua kecamatan lain menyusul. Pukul 14.30, Dusun II Samasundu, Kecamatan Limboro, terbakar akibat pembukaan lahan dengan teknik pembakaran. Damkar Tinambung tiba sepuluh menit kemudian; Manggala Agni Kementerian Kehutanan turut bergabung dalam penanganan, dengan dugaan awal satu hektare lahan itu padam pukul 16.45. Belum sempat beristirahat, armada yang sama bergeser ke Desa Bala, Kecamatan Balanipa, tempat Manggala Agni, pihak Kepolisian dan warga telah lebih dulu memadamkan sekitar dua hektare lahan secara manual; berstatus tertangani pukul 17.37.
Kembali ke Gunung Tapango
Luyo akhirnya tuntas pukul 16.39. Setelah armada terisi ulang, pukul 17.20 Imran Kepala Damkar bersama Kaban BPBD Andi Chandra bertolak menuju Tapango, membantu regu yang sejak pukul 13.50 berjibaku dengan api gunung namun tak sekali pun berhasil menyentuhnya langsung.
Tiga puncak bukit sudah didaki, dua rekaman video sore itu memperlihatkan kobaran melompat dari punggung bukit satu ke bukit lain terdorong angin kencang. Personel TNI, Polri dan Brimob yang sebelumnya turut menangani Buttu Dakka juga bergeser menuju titik api di gunung ini. Rombongan Satgas Karhutla Polewali Mandar disambut Camat Tapango, Hirawati, SP., M.Adm.,KP., yang turut memantau dari dekat.
"Malam itu saya cuma bisa lihat titik apinya dari kejauhan, kecil dan terus berasap, menyeberang ke dua dusun sekaligus. Kami tidak bisa mendekat, medannya tidak memungkinkan," ujar Annissa.
Di sela itu, pukul 18.30, laporan lain masuk dari jalur berbeda. Lahan di sepanjang Jalan Poros Trans Sulawesi, Kawasan Palippis, Desa Bala, terbakar, diduga akibat kelalaian. Damkar Campalagian tiba dalam lima menit, memadamkan api yang mengarah turun ke lereng jurang dekat dari kawasan wisata Pantai Palippis dalam waktu dua puluh lima menit.
Namun di Tapango, hingga pukul 18.00 titik api gunung tetap tak terjangkau langsung. Api itu baru benar-benar terlihat padam pukul 20.30. Camat Hirawati mengonfirmasi luas terdampak mencapai sekitar 30 hektare hutan dan kebun.
Malam : Sekam yang Membara
Satu menit setelah Tapango dinyatakan tertangani, informasi baru sampai. Warga di Dusun I Jambu Malea, di belakang SDN 064, sudah lebih dulu memadamkan sendiri api di lahan mereka, seluas sekitar 1,5 hektare. Karena khawatir bara masih hidup, mereka meminta armada yang bersiaga di dekat sana untuk turut mendinginkan lokasi.
Penyemprotan pukul 20.31 menembus tumpukan sekam padi yang tampak padam di permukaan namun masih membara di bagian dalam.
"Sekamnya kelihatan sudah hitam dan dingin di permukaan, tapi begitu disemprot lebih dalam, asapnya masih keluar. Warga sudah lega mengira sudah padam total, namun tetap khawati baranya belum benar-benar mati sehingga terjadi penyalaan kembali," kata Annissa.
Tiga puluh menit kemudian, area dinyatakan aman. Di titik inilah catatan lapangan Annissa berhenti.
"Hari ini (Selasa, 15 September 2026) menjadi hari terpanjang yang pernah saya jalani," katanya, sebelum kembali ke Posko Induk Matakali bersama sebagian personel lainnya.
Hampir bersamaan, pukul 21.00, sebuah siaran langsung TikTok memperlihatkan kobaran baru di Desa Samasundu, lokasi yang siang tadi sudah dianggap selesai. Sebagian personel lain, bersama Imran, melanjutkan ke sana. Medan di sana tak memungkinkan armada mendekat, sehingga personel berjalan kaki, memukul bara dengan ranting bersama warga dan polisi setempat, hingga api benar-benar padam pukul 23.05.
Menjelang Dini Hari, Bukit di Bulo Terbakar
Belum sempat armada beristirahat, laporan baru masuk tepat ketika Samasundu baru saja dinyatakan padam. Lahan perbukitan di belakang gedung SPPG, Dusun Kanusuang, Desa Pulliwa, Kecamatan Bulo, terbakar.
Damkar Matakali yang telah kembali dari Desa Jambu Malea telah tiba di Posko Induk untuk bersiaga, kembali bergerak bersama Damkar Campalagian menuju titik api, tiba dalam lima belas menit, kali ini didampingi 1 unit TNI Kodim.
Pemadaman lima hektare lahan itu berlangsung hingga dini hari, angin kencang menyebabkan lidah api tak terkendali, berisiko berdampak pada area pemukiman sekitar, api baru dinyatakan tuntas pukul 03.18 di hari Rabu, enam belas jam lebih sejak laporan pertama hari itu masuk ke posko.
Proses Investigasi : Memetakan Luas Lahan Terdampak
Dua hari berikutnya, dilakukan investigasi dan pengukuran lahan terdampak. Rabu sore, ASN CPNS Damkar Polman, atas nama Ahmad Robbani, PIC Damkar Polewali Mandar untuk Satgas Karhutla Sulawesi Barat dan rekan kerja Andi Annissa, kembali ke Palippis memetakan ulang lahan yang sehari sebelumnya sudah dicatat "tertangani".
Ditemukan bara menyala di beberapa titik, dan area terbakar ternyata merembet ke kedua sisi jalan. Dari estimasi awal 0,5 hektare, luasnya membengkak menjadi sekitar 1,5 hektare, dengan indikasi kuat api sengaja dinyalakan lalu ditinggalkan tanpa dipastikan padam.
Kamis paginya, giliran Samasundu Kec. Limboro dipetakan ulang, pukul 08.00 hingga 15.15. Hasilnya jauh lebih mengejutkan. Dari perkiraan awal sekitar 3 hektare gabungan 1 hektare kejadian siang dan 2 hektare kejadian malam, pemetaan langsung di lapangan mencatat luas sesungguhnya 19,63 hektare, dibulatkan 20 hektare. Kejadiannya sama dengan Palippis, ditemukan api yang menyala di lahan baru bekas pemadaman sebelumnya, ditinggal tanpa pengawasan begitu saja.
Selisih 16,63 hektare itu bukan salah hitung, melainkan bukti betapa cepat batas antara kebakaran pertama dan penyalaan kembali menyatu dan meluas tanpa bisa lagi dipisahkan.
Statistik Angka Satgas Karhutla
Sampai Kamis, 17 September, rekap Damkar Polewali Mandar mencatat :
- 120 kejadian sepanjang musim kemarau ini (94 karhutla, 26 kebakaran permukiman)
- 84 jiwa terdampak
- ±51 hektare hutan dan ±263,78 hektare lahan kebun terbakar, bersama 82 rumah
- 31 titik kekeringan terpisah: 7.345 jiwa dari 7.035 kepala keluarga kesulitan air bersih, 181.000 liter air telah disalurkan BPBD
Angka ini hanya sebagian kecil dari peta yang jauh lebih luas. Data Satgas Karhutla Sulawesi Barat pada periode sama mencatat 564 kejadian se-provinsi : 359 karhutla, 81 kebakaran permukiman, 124 titik kekeringan, dengan 253 jiwa dan 134 kepala keluarga terdampak langsung oleh api, ±167,12 hektare hutan, ±434,16 hektare lahan, 149 rumah, dan lima fasilitas umum ikut terbakar.
Untuk krisis air bersihnya, 46.562 jiwa dari 17.111 kepala keluarga se-Sulawesi Barat kini bergantung pada distribusi darurat, dengan 2.829.600 liter air telah disalurkan.
Surat edaran yang ditandatangani Bupati sejak akhir Juli itu kini terasa seperti imbauan yang disepelekan selama musim kemarau. Entah karena kurang digaungkan, atau karena pihak-pihak yang membakar lahan belum juga tersadarkan.
Tapi selama langit belum juga menurunkan hujan, sembilan kalimat sederhana itu : Jangan Membakar! Matikan Api sebelum Pergi! Pastikan Bara benar-benar Padam! Barangkali satu-satunya yang bisa menahan laju menuju titik api ke-121. Namun ternyata, pada hari Kamis beberapa hari selanjutnya, kebakaran lahan ±40 Hektare di Kec. Balanipa berdampak pada 4 Desa : Lambanan, Sabang Subik, Pambusuang, Lego.
Malamnya, Desa Paku Kec. Binuang kebakaran dengan luas lahan terdampak ±100 Hektare, menyeberang hingga Daerah tetangga.
Warga yang mendapati titik api dapat melaporkannya ke hotline Damkar dan Penyelamatan Polewali Mandar







