XPOSETV//Lombok Timur, NTB - Disiplin barak, ketegasan komando, dan pengalaman menjaga perdamaian dunia di bawah bendera PBB. Tiga hal itu yang membentuk sosok Letkol (Purn) H. Sarbini, S.E., yang kini akrab disapa Kak Tuan Sarbini (KTS).
Jika selama puluhan tahun hidupnya dihabiskan di medan tugas militer, kini KTS bersiap memasuki medan pengabdian baru: politik.
Perjalanan KTS bukan perjalanan biasa. Karier militernya mengantarkannya menjadi bagian dari Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon, negara yang bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang konflik. Di sana, KTS tidak hanya belajar tentang strategi militer, tapi tentang arti komunikasi lintas budaya, agama, dan kepentingan.
"Di Lebanon saya belajar, perdamaian tidak lahir dari satu pihak. Pemimpin tidak cukup hanya berani memerintah, tapi harus bisa membangun kepercayaan," begitu prinsip yang ia bawa pulang.
Pengalaman internasional itu justru membuatnya semakin menoleh ke tanah kelahirannya, Pulau Lombok. Setelah kembali bertugas di Lombok, KTS tidak lagi hanya melihat masyarakat dari kacamata keamanan. Ia turun, bertemu tokoh masyarakat, berdialog dengan anak muda, dan menyaksikan langsung perjuangan warga memenuhi kebutuhan hidup.
Ia menyadari, banyak persoalan rakyat tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan komando. Butuh pemberdayaan, kebijakan yang tepat, dan kemauan untuk mendengarkan.
"Karakter pemimpin dibentuk bukan hanya dari keberanian mengambil keputusan, tapi dari kemampuan memahami orang-orang di sekelilingnya," ujar KTS.
Kini, setelah memasuki masa purnatugas, KTS melihat politik bukan sebagai tujuan kekuasaan, melainkan sebagai ruang yang lebih luas untuk menerapkan pengalaman panjangnya. Dari menjaga perdamaian dunia, kini ia ingin menjaga masa depan Lombok.
Bagi KTS, ini bukan tentang meninggalkan masa lalu sebagai prajurit. Ini tentang melanjutkan pengabdian, dari misi perdamaian menuju jalur politik. (H A)
(Bersambung)











Tidak ada komentar:
Posting Komentar