Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

LSM SUMEA Desak PT INTAM Libatkan Masyarakat Lokal, Tegaskan Investasi Harus Berdampak Nyata bagi Warga Sepukur Lantung

Sabtu, 27 Juni 2026 | Juni 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-27T06:43:53Z

 














XPOSETV//Sumbawa, NTB – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) SUMEA menegaskan komitmennya mendukung iklim investasi di Kabupaten Sumbawa, khususnya di wilayah Sepukur, Kecamatan Lantung. Namun, dukungan tersebut disertai tuntutan agar perusahaan tambang yang beroperasi di daerah tersebut memberikan ruang yang adil bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam aktivitas usaha, baik sebagai tenaga kerja maupun pelaku usaha lokal.


Pernyataan tersebut disampaikan Ketua LSM SUMEA, Yosi Larian, S.Sos, pada Jumat (27/6). Bersama masyarakat Desa Sepukur, ia mengungkapkan kekecewaan terhadap salah satu perusahaan tambang emas yang telah beroperasi di wilayah tersebut, yakni PT INTAM, yang dinilai belum membuka ruang partisipasi secara optimal bagi masyarakat sekitar.


Menurut Yosi, masyarakat Sepukur sejak awal tidak pernah menolak masuknya investasi. Sebaliknya, warga berharap kehadiran perusahaan mampu menciptakan lapangan pekerjaan, menggerakkan roda perekonomian lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Namun, harapan tersebut dinilai belum terwujud. Masyarakat mengaku belum memperoleh kesempatan yang proporsional untuk ikut berpartisipasi dalam aktivitas operasional perusahaan, terutama bagi tenaga kerja lokal dan pengusaha yang ingin menjadi mitra penyedia barang maupun jasa.


"Kami bukan menolak investasi. Kami justru mendukung pemerintah menghadirkan investor ke daerah kami. Tetapi jangan jadikan masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri," tegas Yosi.


Ia menjelaskan, berbagai upaya komunikasi telah ditempuh masyarakat bersama LSM SUMEA, mulai dari penyampaian aspirasi melalui hearing hingga aksi unjuk rasa. Namun, menurutnya, berbagai langkah tersebut belum menghasilkan respons yang memuaskan dari pihak perusahaan.


Karena merasa aspirasi mereka belum mendapat perhatian, masyarakat bersama LSM SUMEA bahkan sempat melakukan aksi sweeping sebagai bentuk desakan agar perusahaan bersedia membuka ruang dialog dan memberikan penjelasan atas tuntutan yang disampaikan.


Dalam pernyataannya, Yosi juga menyoroti dampak yang dirasakan masyarakat akibat aktivitas pertambangan. Ia menilai perusahaan memperoleh manfaat ekonomi dari sumber daya alam daerah, sementara masyarakat masih merasakan berbagai konsekuensi sosial maupun lingkungan.


"Kami sebagai masyarakat lokal hanya ingin dilibatkan dalam kegiatan perusahaan. Jangan jadikan kami sebagai penonton di daerah kami sendiri. Kalian mengambil kekayaan alam kami, sementara masyarakat juga harus menghadapi berbagai dampak yang ditimbulkan," ujarnya.


Selain persoalan pelibatan masyarakat, Yosi turut menjelaskan mengenai isu kompensasi penggunaan akses jalan yang sebelumnya menjadi perhatian warga. Ia menyebut jalan tersebut merupakan akses yang dibangun masyarakat sejak tahun 2017 dan sempat digunakan perusahaan.


Namun saat ini, menurutnya, PT INTAM telah membuka jalur alternatif melalui Desa Padesa, Kecamatan Lantung. Dengan beralihnya jalur operasional tersebut, akses yang selama ini diklaim masyarakat sudah tidak lagi digunakan oleh perusahaan.


Meski demikian, LSM SUMEA berharap persoalan-persoalan yang pernah muncul dapat diselesaikan melalui komunikasi terbuka dan mengedepankan musyawarah sehingga tidak berkembang menjadi konflik sosial yang berkepanjangan.


Yosi menegaskan bahwa masyarakat Sepukur siap menjadi mitra pembangunan apabila perusahaan membuka kesempatan yang adil bagi warga sekitar. Pelibatan masyarakat lokal diyakini akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi desa sekaligus memperkuat hubungan harmonis antara perusahaan dan masyarakat.


Ia menilai pemberdayaan masyarakat lokal bukan hanya melalui perekrutan tenaga kerja, tetapi juga dengan memberikan peluang kepada pelaku usaha lokal untuk menjadi pemasok kebutuhan operasional perusahaan sehingga manfaat investasi benar-benar dirasakan masyarakat.


LSM SUMEA juga mengajak pemerintah daerah untuk berperan aktif memfasilitasi komunikasi antara perusahaan dan masyarakat agar setiap persoalan dapat diselesaikan secara cepat, objektif, dan berkeadilan.


Menurutnya, sinergi yang baik antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat merupakan kunci terciptanya iklim investasi yang sehat, aman, dan berkelanjutan di Kabupaten Sumbawa.


"Harapan kami sederhana, investasi tetap berjalan, perusahaan berkembang, masyarakat lokal diberdayakan, dan seluruh pihak dapat tumbuh bersama tanpa menimbulkan persoalan sosial di kemudian hari," tutup Yosi. (H A)

×
Berita Terbaru Update