XPOSE TV TUBAN - Angka kemiskinan di Kabupaten Tuban menunjukkan tren positif. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban, persentase penduduk miskin pada Maret 2026 turun ke 12,92 persen. Capaian ini lebih rendah dibanding Maret 2025 yang berada di angka 14,13 persen. Penurunan sebesar 1,21 persen poin tersebut menjadi yang terbesar kedua di Jawa Timur, setelah Kabupaten Sampang.
Capaian ini menjadi pemicu bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban untuk terus memperkuat program penanggulangan kemiskinan. Strategi yang dijalankan dilakukan secara terpadu, yakni dengan mengurangi beban pengeluaran warga, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mengurai kantong-kantong kemiskinan.
Kepala Dinas Kominfo-SP Kabupaten Tuban, Arif Handoyo, mengatakan tren penurunan tersebut menjadi indikator keberhasilan pembangunan daerah. Meski demikian, ia menegaskan capaian itu harus dibarengi dengan kerja berkelanjutan agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.
Menurut Arif, Bupati Tuban Mas Lindra menekankan bahwa penurunan angka kemiskinan bukan sekadar capaian statistik. Lebih dari itu, pemerintah ingin memastikan warga memiliki akses terhadap kebutuhan dasar, peluang peningkatan penghasilan, dan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Data BPS mencatat, jumlah penduduk miskin di Tuban pada Maret 2026 sebanyak 154,83 ribu jiwa. Jumlah tersebut berkurang 14,03 ribu jiwa atau sekitar 8,31 persen dibanding periode Maret 2025 yang mencapai 168,86 ribu jiwa.
Di sisi lain, kinerja ekonomi Tuban juga tumbuh positif. Pada semester I 2026, pertumbuhan ekonomi tercatat 6,47 persen, naik dibandingkan periode sama tahun 2025 sebesar 4,53 persen. Pertumbuhan ini dinilai penting untuk diperluas dampaknya, terutama dalam membuka lapangan kerja, menggerakkan aktivitas usaha, dan mendongkrak pendapatan warga.
Kepala Bapperida Kabupaten Tuban, Abdul Rakhmat, menambahkan tren penurunan kemiskinan terlihat konsisten dalam lima tahun terakhir. Pada 2021, persentase penduduk miskin masih di angka 16,31 persen atau sebanyak 192,58 ribu jiwa. Angka itu terus melandai hingga menjadi 12,92 persen atau 154,83 ribu jiwa pada 2026.
Penurunan tidak hanya terjadi pada jumlah dan persentase penduduk miskin. Dari sisi kedalaman dan keparahan kemiskinan, Tuban juga mencatat perbaikan signifikan. Indeks Kedalaman Kemiskinan pada Maret 2026 berada di angka 0,64, lebih rendah dari rata-rata Jawa Timur sebesar 1,21. Capaian ini menempatkan Tuban di peringkat ke-16 terendah se-Jatim. Indeks tersebut turun 1,25 poin dibanding tahun sebelumnya dan menjadi penurunan terbesar di Jawa Timur. Hal itu menunjukkan kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin mengecil.
Sementara untuk Indeks Keparahan Kemiskinan, Tuban mencatat angka 0,11 poin, jauh di bawah Jawa Timur sebesar 0,24 poin. Dengan nilai itu, Tuban berada di peringkat ke-17 terendah se-Jatim. Indeks ini turun 0,31 poin, dari sebelumnya 0,42 menjadi 0,11, yang juga menjadi penurunan terbesar di Jawa Timur dan mengindikasikan ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin semakin berkurang.
Pemkab Tuban menegaskan komitmennya agar pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan pemerataan kesejahteraan. Karena itu, pengentasan kemiskinan harus dilakukan secara terarah dengan memperhatikan kebutuhan warga dan kondisi wilayah yang masih menjadi kantong kemiskinan.
Keberhasilan program ini, kata Abdul Rakhmat, membutuhkan sinergi lintas perangkat daerah, pemerintah desa, dunia usaha, serta partisipasi aktif masyarakat. Kolaborasi tersebut penting agar program bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan peningkatan akses layanan dasar bisa saling melengkapi dan tepat sasaran.
Meski trennya menurun, tantangan masih ada. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin Tuban masih tercatat tertinggi keenam di Jawa Timur. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa upaya penanggulangan kemiskinan harus terus diperkuat.
Melalui kebijakan yang fokus pada pengurangan beban pengeluaran, peningkatan pendapatan, dan penanganan kantong kemiskinan, Pemkab Tuban berupaya memastikan pembangunan memberikan manfaat yang lebih merata. Dengan begitu, penurunan angka kemiskinan tidak hanya terlihat dalam data, tetapi juga benar-benar dirasakan melalui peningkatan kualitas hidup masyarakat.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar