NTB Jadi Cermin Indonesia: Budaya Nusantara Jadi Senjata Diplomasi Dan Penggerak Ekonomi Global

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

NTB Jadi Cermin Indonesia: Budaya Nusantara Jadi Senjata Diplomasi Dan Penggerak Ekonomi Global

Senin, 24 Agustus 2026 | Agustus 24, 2026 WIB | 0B Last Updated 2026-08-24T11:47:50Z


XPOSETV//Mataram, NTB — Di tengah pesatnya dinamika globalisasi dan keterhubungan dunia, Indonesia menyimpan narasi otentik yang tak ternilai harganya: keberagaman suku dan agama yang hidup rukun dalam satu keharmonisan. Potret kedamaian tersebut paling nyata terpancar dari Nusa Tenggara Barat (NTB).


Dalam pandangan opini terbarunya, pengamat dan tokoh lokal M. Khaerol Khatoni menegaskan bahwa kekayaan budaya Nusantara—khususnya yang tumbuh pesat di bumi NTB—sangat layak dijadikan portofolio utama identitas serta instrumen diplomasi bangsa di panggung internasional.


Lombok dan Sumbawa: Miniatur Toleransi Indonesia

Provinsi NTB, yang ditopang oleh dua pulau utama yakni Lombok dan Sumbawa, menjadi rumah bagi beragam suku bangsa, mulai dari Sasak, Mbojo, Samawa, Bali, Tionghoa, hingga berbagai komunitas pendatang lainnya. Perbedaan bahasa daerah, adat istiadat, serta keyakinan terbukti tidak menjadi sekat pemisah.


Selama berabad-abad, masyarakat NTB merawat tradisi bertetangga yang sarat toleransi. Pemandangan tempat ibadah antarumat beragama yang berdiri berdekatan, saling menjaga saat perayaan hari besar keagamaan, hingga tradisi gotong royong yang mengakar kuat di pedesaan menjadi bukti hidup bahwa kebhinekaan adalah modal sosial utama.


Budaya Sebagai Instrumen 'Soft Diplomacy' dan Kekuatan Ekonomi

Khaerol Khatoni menekankan bahwa kebudayaan tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai komoditas hiasan pariwisata semata. Di tengah kompetisi geopolitik dan ekonomi masa kini, budaya merupakan kekuatan soft diplomacy paling efektif dan persuasif.


"Ketika politik kadang menimbulkan sekat dan benturan, budaya justru membentang pintu komunikasi. Lewat seni, kuliner, kerajinan, dan cara kita hidup bersama, dunia internasional akan semakin percaya dan hormat pada Indonesia," tegas Khaerol dalam rilisnya, Senin (24/08/2026).

 

Potensi ini tercermin nyata di Lombok yang terus memantapkan posisinya sebagai destinasi wisata kelas dunia. Wisatawan mancanegara datang bukan sekadar memburu keindahan alam dan pantai, melainkan merindukan kehangatan serta keramahan masyarakat lokal. Sementara di Sumbawa, kebudayaan mewujud dalam semangat gotong royong warga yang bahu-membahu membangun lingkungan dan hajatan adat tanpa sekat komersial.


Filsafat Lokal dan Ruang Temu Lintas Generasi

Kekuatan NTB berakar dari kearifan lokal yang dihidupi sehari-hari. Suku Sasak memegang teguh nilai sopan santun, keharmonisan, dan saling menghargai. Di Sumbawa, nilai-nilai kesusilaan menjaga tatanan sosial agar senantiasa harmonis dan berkeadilan.


Kesenian tradisional, seni tari, dan upacara adat berfungsi lebih dari sekadar hiburan; tradisi ini menjadi "ruang temu" bagi lintas generasi. Di panggung budaya inilah tokoh adat, warga, dan generasi muda duduk bersama merawat tali persaudaraan agar tak lapuk ditelan zaman.


Dari Produk Lokal Menuju Pasar Internasional

Lebih lanjut, Khaerol menyoroti potensi komersial ekonomi kreatif berbasis nilai budaya. Produk unggulan NTB seperti kain tenun ikat khas, kerajinan gerabah, ukiran kayu, hingga kuliner bernilai seni tinggi kini memiliki daya tawar (added value) luar biasa di pasar global saat dikemas bersama cerita naratif (storytelling) budayanya.


Pasar internasional kini tidak sekadar membeli barang fisik, melainkan mengapresiasi nilai sejarah dan keaslian identitas di balik produk tersebut. Hal ini turut memicu pertumbuhan sektor kreatif lainnya—seperti film, musik, seni pertunjukan, dan literatur—yang membawa pesan perdamaian sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi anak-anak muda.


Tantangan Era Digital dan Perlindungan HKI

Meski berpotensi besar, Khaerol memberikan catatan kritis terkait tantangan pelestarian di era digital:

  1. Menjaga Otentisitas: Keaslian budaya harus tetap terjaga di tengah komersialisasi pasar.
  2. Standarisasi Global: Kemasan, kualitas produk, dan strategi distribusi produk budaya harus naik kelas mengikuti standar industri internasional.
  3. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI): Warisan budaya lokal wajib dilindungi secara hukum agar tidak dieksploitasi oleh pihak luar tanpa memberikan manfaat balik bagi komunitas adat pemiliknya.

"Generasi muda harus menjadi nahkoda utama. Mereka memegang kendali teknologi dan paham dinamika pasar modern. Tugas kita bersama adalah memberikan ruang dan fasilitas agar narasi budaya Nusantara ini bisa bergaung melintasi batas negara," tambah Khaerol.

 

Menjaga Anugerah Kedamaian untuk Indonesia

Menutup opininya, Khaerol mengingatkan bahwa perbedaan adalah anugerah terbesar bangsa. Sebagaimana indahnya garis pantai yang terbentuk dari pertemuan laut dan daratan, NTB menjadi tangguh justru karena keberagamannya yang menyatu.


Dengan merawat akar tradisi dan nilai gotong royong, NTB berhasil membuktikan diri sebagai laboratorium perdamaian. Ketika NTB damai dan maju, Indonesia memiliki bukti nyata yang kokoh untuk ditunjukkan kepada panggung dunia: bahwa bangsa ini bisa bersaing di tingkat global tanpa pernah kehilangan jati dirinya. (HA)

×
Berita Terbaru Update